Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juli 2013

Hujan dan Kita

Barangkali, hanya hujan yang berhasil menghadirkan bias wajahmu dengan gamblang. Kamu ada di sana. Di tiap butirnya yang menganak sungai. Sahabat. Begitu katamu, bukan? Aku tak mau. Bukan warna ini yang aku lihat di kedua retinamu. Hujan tak pernah merabunkan hati, Sayang. Sekalipun mati-matian kau bilang, "aku ingin berteman." Tapi hatimu memintaku bertahan. Aku akan berdiri di sini. Sendirian. Menunggu kesiapan hatimu yang bimbang. Kesepian.
 Barangkali, hanya hujan yang tahu bagaimana diam menyampaikan rasa. Mengubah warna. Dari mata ke palung jiwa. Lewat gemerisik suaranya. Berisik ingin mengadu. Aku rindu. Lewat kecipak bulirnya, saat menyentuh tanah. Haru. Lebur menjadi padu. Sahabat. Masihkah itu yang kamu mau? Lantas bagaimana dengan hatimu yang kian biru? Apa yang membuatmu ragu? Hujan tak pernah merabunkan hati, Sayang. Ia tak lantas membuat warna itu abu-abu di mataku. Rasamu masih biru. Hanya saja, nalarmu membatu. Pada siapa aku beku?[]

#Phie

Sabtu, 29 Desember 2012

BERSAHABAT dengan HUJAN




Hujan malam ini seakan enggan untuk berhenti, liriknya mengalun tak berirama. Melantun tanpa melodi yang pasti. Tak berartutan. Seperti dentuman krucuk-krucuk di perutku yang sedari tadi hanya bisa kuisi dengan air mineral. Yah. Hujan malam ini tampaknya sangat kejam mengadili keteledoranku yang terlambat makan. Lagi dan lagi. Mungkin dia sudah bosan mendengar aku mengeluh kelaparan dan selalu menyalahkannya sebagai tersangka utama.
Yah.. mungkin benar. Antara perutku dan hujan tak pernah memiliki hubungan yang harmonis. Tak bisa saling mengisi. Saat perut minta diisi dengan tak sopannya ia datang, membawa jarak antara perut dan warung nasi. Tanpa permisi. Dan lagi-lagi aku hanya bisa meminta perutku sabar dengan hanya menelan air putih ini.
Lantas, karenanya kami menjadi musuh?
Ah.. tidak...


Sebab seburuk-buruknya hujan, aku tahu seberapa baiknya ia. Yah. Aku paham dengan pasti seberapa dekatnya dia dengan hati.  Ia serupa bahasa yang hanya bisa disampaikan hati lewat isyarat, semacam pesan yang hanya bisa dibaca oleh kaum perasa. Yah… mereka ditakdirkan untuk saling berbagi. Saling mengisi. Seperti tetesan hujan yang mewakili basahnya hati, menyuratkan segala kegundahannya dengan sempurna pada tiap gemericiknya yang menari anggun di atas dedaunan. Seperti itu pula air mata menggambarkan hujan kecil dipipi. Mengalir tanpa emosi. Alpa apa itu elegy.

Lantas kami memutuskan bersahabat. Memilin emosi untuk saling berbagi, beradu cerita sendu dari masa lalu… bersama-sama memejamkan hari, menentramkan hati. Percaya esok akan ada pelangi. #lagi

Surabaya 10 Desember 2012
23.45 WIB
#PHIE (Meracau)