Sabtu, 29 Desember 2012

Membuta dan Menulilah




Terkadang, menjadi buta dan tuli di saat sebenarnya kita bisa melihat dan mendengar adakalanya menjadi PENTING

membuta dan menuli-lah untuk hal-hal yang tidak menjadikanmu lebih baik dengan melihat dan mendengarkannya

membuta dan menuli-lah untuk hal-hal yang hanya akan membawamu menjadi pribadi yang lemah, lemah akan kepercayaanmu terhdp kemampuanmu

membuta dan menuli-lah untuk hal-hal yang merosotkan nilai juangmu untuk dirimu sendiri

membuta dan menuli-lah untuk semua bully-an terhadapmu tanpa lupa untuk mengambil sebanyak-banyaknya pelajaran untuk bermawas diri

membuta dan menuli-lah untuk hal-hal yg demikian, krn tanpa kita sadari apa yg kita lihat dan kita dengar mempengaruhi tindakan kita

Dan, dgn ini saya nyatakan.. saya akan menjadi buta dan tuli untuk semua hal yg pada akhirnya tidak membawa kebaikan pada pribadi saya


            #phie

Dilemma


Lalu sekelumit rasa yang menggeliat di relung ini haruskah kunamai cinta?
Walau aku belum yakin memahatkan namamu lebih dalam lagi
Aku takut…
Takut tersakiti
Bahkan oleh segala kemanisan yang kau tawarkan
Bahkan dengan segenap putih yang kau bahasakan
Aku takut…
Aku takut salah menerjemahkannya lagi,
Seperti dulu
Saat kupatrikan rasaku pada rasa yang kau sebut persahabatan.


#Surabaya, 
30 Desember 2012

CINTA


Tiada yang kuasa menolak hadirnya.
Ia datang dengan segudang keegoisan yang dengan arogan menyapa para korbannya.
Ah.. korban?
pula yang menamainya demikian.
Tak ada korban dalam bercinta.
Setiap pribadi dengan sadar memilih untuk tetap mencinta,
 atau untuk melepasnya.
Yah! Cinta tak pernah salah kawan,
cinta tak pernah salah.
Kedatangannya mungkin memang tak pernah kita undang,
menyelinap begitu saja dalam kegamangan…
tak jarang membuat hati hilang pegangan.
Tapi tetap saja,
 cinta tak pernah salah, kawan.
Kembalilah bercermin dan mawas diri.
Kadang kita alpa,
 bahwa cara kita dalam mencintailah yang membuat semua menjadi salah.

Maka ijinkan aku,
pribadi yang kecil ini untuk menjadi lebih layak mencinta,
ijinkan aku memilih untuk melepasmu cinta,
melepasmu untuk esok mendapatkanmu kembali di pangkuanku.
Yah… dengan cara yang benar,
kuharap.

pic: http://indulgy.com/post/eJEZRBvFD1/true-love-it-is

BERSAHABAT dengan HUJAN




Hujan malam ini seakan enggan untuk berhenti, liriknya mengalun tak berirama. Melantun tanpa melodi yang pasti. Tak berartutan. Seperti dentuman krucuk-krucuk di perutku yang sedari tadi hanya bisa kuisi dengan air mineral. Yah. Hujan malam ini tampaknya sangat kejam mengadili keteledoranku yang terlambat makan. Lagi dan lagi. Mungkin dia sudah bosan mendengar aku mengeluh kelaparan dan selalu menyalahkannya sebagai tersangka utama.
Yah.. mungkin benar. Antara perutku dan hujan tak pernah memiliki hubungan yang harmonis. Tak bisa saling mengisi. Saat perut minta diisi dengan tak sopannya ia datang, membawa jarak antara perut dan warung nasi. Tanpa permisi. Dan lagi-lagi aku hanya bisa meminta perutku sabar dengan hanya menelan air putih ini.
Lantas, karenanya kami menjadi musuh?
Ah.. tidak...


Sebab seburuk-buruknya hujan, aku tahu seberapa baiknya ia. Yah. Aku paham dengan pasti seberapa dekatnya dia dengan hati.  Ia serupa bahasa yang hanya bisa disampaikan hati lewat isyarat, semacam pesan yang hanya bisa dibaca oleh kaum perasa. Yah… mereka ditakdirkan untuk saling berbagi. Saling mengisi. Seperti tetesan hujan yang mewakili basahnya hati, menyuratkan segala kegundahannya dengan sempurna pada tiap gemericiknya yang menari anggun di atas dedaunan. Seperti itu pula air mata menggambarkan hujan kecil dipipi. Mengalir tanpa emosi. Alpa apa itu elegy.

Lantas kami memutuskan bersahabat. Memilin emosi untuk saling berbagi, beradu cerita sendu dari masa lalu… bersama-sama memejamkan hari, menentramkan hati. Percaya esok akan ada pelangi. #lagi

Surabaya 10 Desember 2012
23.45 WIB
#PHIE (Meracau)